Kamis, 21 April 2016

2 perahu nelayan dijarah perompak di perairan bawean - gresik

Dua perahu berserta anak buah kapal (ABK) milik nelayan Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban selamat dari perompak. Seluruh perlengkapan dan hasil tangkapan dijarah. Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut.http://kursrupiah.net/keterbukaan-langkah-cerdas-mengelola-keuangan-rumah-tangga/3265/
 Insiden penjarahan itu terjadi di sekitar Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, 13 April 2016 lalu. Selama 3 hari seluruh ABK ditawan, dan perlengkapan perahunya dilucuti. “Beruntung semua ABK selamat dan sekarang mereka sudah kembali ke kampung halamannya,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Tuban, Sunarto, Selasa (19/4).
Pasca mendapat laporan dari salah satu nelayan Palang, DKP langsung berkoordinasi dengan DKP Provinsi Jawa Timur, Polres Gresik, dan Satuan Polisi Air (Sat- polair) wilayah setempat. Lantaran Pulau Bawean masih wilayah Gresik, hanya berjarak 80 mil atau 120 kilometer dari darat. “ Tindakan tersebut murni kriminal dan langsung ditindak satuan kemanan Gresik,” imbuh Narto.
Insiden penjarahan ini termasuk perdana di Jawa Timur. Menurut catatannya belum ada laporan tentang adanya perompak dari nelayan setempat.
Sesuai pengakuan nelayan Palang, ketika dua perahu berdekatan dengan Pulau Bawean mendadak didatangi beberapa perahu bersenjata tajam, dan meminta seluruh perlengkapan diserahkan. “Mulai bahan bakar minyak, hasil tangkapan, serta alat tangkap dijarah,” tambahnya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk bernegoisasi, seluruh satuan keamanan dikerahkan dan berhasil melumpuhkan perompak kecil tersebut. “Atas insiden ini nelayan harus lebih berhati-hati,” harapnya.

sumber: radar gresik

produktivitas usaha di gresik menurun, banyak pekerja di PHK

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat awasl tahun 2016, terjadi penurunan produktivitas usaha. Untuk menghdapai penurunan ini, para pelaku usaha terus menggali terobosoan agar tetap bertahan. Hal itu disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Kota (DPK) Apindo Gresik, Tri Andhi Suprihartono pada pertemuan Apindo. Pertemuan ini diharapkan melahirkan beberapa terobosan baru untuk menghadapi penurunan produktivitas usaha. “Ya salahsatunya melalui employment engagment atau peningkatan hubungan keterikatan buruh dan perusahaan,” terang Andhi. http://kursrupiah.net/ingin-tarif-hotel-promo-di-jakarta-cek-daftarnya/3232/
Disebutkan, penurunan produktivitas usaha industrial sebanyak 30 persen itu dipicu dari sejumlah faktor. Di antaranya, kurangnya keberpihakan regulasi pemerintah terhadap pengusaha, hingga besarnya gejolak yang terjadi antara pengusaha dan pekerja.
“Kami mendorong agar hubungan industrial antara pemerintah, pengusaha dan pekerja bisa lebih baik. Sebab, masing-masing komponen ini memiliki peran sebesar 30 persen terhadap produktivitas usaha industri,” ujarnya.
Andhi menyebutkan, selama kurun waktu 2015 terjadi peningkatan jumlah Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Gresik. Jika pada 2014 jumlahnya mencapai 4.000 pekerja pada tahun 2015 mencapai 10.000 pekerja. Sementara hingga Maret lalu, tercatat sudah ada 2.500 pekerja yang di-PHK. “Mayoritas yang melakukan PHK industri yang bergerak dibidang manufaktur. Hal ini dipicu turunnya produktivitas usaha perusahaan,” terangnya.
Melalui employment engagment, imbuh Andhi, Apindo mendorong perusahaan untuk memenuhi hak normatif para pekerja. Selain itu, Apindo juga meminta pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan penyetaraan upah ditingkat provinsi.
Sementara itu, Pengamat Hubungan Industrial Unair Dimas Aryo Wicaksono yang hadir pada pertemuan tersebut menilai, persoalan hubungan industrial di Kabupaten Gresik saat ini sangat urgent untuk diselesaikan. Sebab, isu kenaikan upah yang selalu digemborkan kaum buruh membuat produktivitas perusahaan menurun.
“Jika upah yang dituntut terlalu tinggi dapat membuat perusahaan gulung tikar karena tidak semua perusahaan dapat menahan beban kenaikan upah. Maka dari itu Employment Engagment ini sangat penting,”tandasnya.

sumber: Radar gresik

Infrastruktur di indonesia timur terus dibenahi

JAKARTA – Menteri Perhubungan Ignasius Jo­nan  menegaskan  pemba­ngunan  infrastruktur  di sektor perhubungan terus di lakukan untuk mengejar ketertingalan  di  wilayah Timur  Indonesia.  Kesen­jangan  infrastruktur  ini yang dianggap sebagai pe­nyebab  munculnya  dis­paritas harga. “Konektvitas antar wilayah terus kita kembangkan untuk  memudahkan  pen­distribusian  barang  dan manusia,”  ucap  Ignasius Jonan  dalam  dikusi  yang dilakukan Jawa Pos Group di Jakarta, kemarin (20/4). http://kursrupiah.net/donald-trump-mimpi-buruk-anak-anak-as/3191/
Mantan  Direktur  Utama PT Kereta Api Indonesia itu mengakui  pembangunan infrastruktur tidak  bisa dilakukan  singkat karena butuh kons truksi   dan persiapan matang. Dia mencontohkan pem­bangunan bandara dengan titik  poin  perpanjangan landasan  pacu  di  setiap bandara. Ini penting agar pesawat wide body (pesa­wat besar) bisa mendarat di  setiap  bandara.  Salah satu  usulan  yang  disam­ pai kan Jonan, sapaannya, adalah  ukuran runway (landasan pacu) 1.600 m x 30 m dan 2.400 m x 45 m. Dia menjanjikan hingga 2019 seluruh bandara su­dah memiliki landas pacu yang  lebih  panjang  dan lebar,  sehingga  pesawat lebih besar bisa melayani seluruh rute penerbangan.
“Dengan  semakin  pan­jang  dan  lebar runway , memung kinkan bagi pesa­wat  untuk  mengangkut penumpang dalam jumlah lebih  besar,  untuk  lebih menghemat  biaya  opera­sional,” lanjut pria kelahi­ran Surabaya itu. Berdasarkan  data  yang dihimpun Radar Surabaya dari Kementerian Perhubu­ngan, di Indonesia terdapat 235 bandara. Jumlah terse­but terdiri dari 13 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura  I  dan  II,  sedangkan sisanya sebanyak 190 ban­dara  dikelola  Kemen trian Perhubungan dan pemerin­tah daerah.

sumber: radar surabaya

Laba bank BNI Syariah tak terpengaruh kondisi ekonomi yang belum stabil

JAKARTA –Kondisi  eko­nomi yang belum stabil sepe­nuhnya  tidak  mengurangi laba BNI Syariah yang diso­kong oleh ekspansi pembia­yaan. Tingginya sektor pembiayaan ini mampu membuat Anak perusahaan PT Bank Negara  Indonesia  Tbk  itu mencatatkan  laba  bersih mencapai  Rp  75,18  miliar sepanjang triwulan pertama tahun ini. Plt  Dirut  BNI  Syariah Imam Teguh Samtono meng­ungkapkan bahwa BNI Sya­riah  mampu  mencatatkan pembiayaan   sebesar   Rp 18,04 Triliun yang sebagian besar ditujukan untuk pem­biayaan konsumtif yang ber­kontribusi   53,18   persen. http://kursrupiah.net/ricky-elson-siapkan-kincir-angin-penari-langit-generasi-kedua/3270/
Sedangkan  di  posisi  kedua adalah pembiayaan produk­tif/ SME yang berkontribusi 22,2 persen. “Pembiayaan  konsumtif sebagian  besar  portofolio pembiayaan   adalah   BNI Griya  iB  Hasanah  sebesar 85,99 persen,” ujar Plt Dirut BNI  Syariah  Imam  Teguh Samtono  kepada  pers  di Jakarta, kemarin (20/4). Dia menambahkan bahwa Seiring  dengan  pertum­buhan pembiayaan, pertum­buhan  Dana  Pihak  Ketiga (DPK)  meningkat  sebesar 20,07  persen  dibandingkan dengan  tahun  sebelumnya atau tercatat Rp 3,49 Triliun dengan rasio Tabungan dan Giro  (CASA)  sebesar  45,06  persen.
”Alhamdulillah,   meski kondisi ekonomi belum me­nunjukkan perbaikan  tahun ini, kinerja BNI Syariah di­ buka  dengan  cukup  baik,” imbuh Imam. Dia  menambahkan  Pen­capaian    kinerja    bisnis tersebut  tetap  memperha­tikan  kualitas  pembiayaan dimana    NPF    triwulan pertama 2016 tetap terjaga di level 2,77 persen. Sementara itu, BNI Syariah  sepanjang  kuartal  I  2016 mencatatkan aset sebesar Rp 24,67 triliun, tumbuh  20,35 persen   dibanding   periode Maret  2015  yang  tercatat sebesar Rp 20,50 triliun. 
“Pertumbuhan  aset  dido­rong oleh pertumbuhan pem­biayaan sebesar 14,95 persen dan  pertumbuhan  DPK  se­besar 20,07 persen  dari tahun sebelumnya   pada   periode yang sama,” kata Imam. Pertumbuhan    kinerja yang  positif  ini  tidak  lepas dari  peran  BNI  sebagai  in­duk perusahaan  yang terus mensinergikan BNI Syariah dengan    induk  usaha  dan anak  usaha  BNI  yang  lain.

sumber: radar surabaya